Jumat, 23 September 2016

Penyakit "Panleukopenia" pada kucing

Penyakit panleukopenia pada kucing
     (( See my Instagram at https://www.instagram.com/ajibondhan_k/ )) or ID= aji bondhan kottama ☺:) Tak terasa sudah 5 bulan saya tidak menulis di blog ini, lama ya? hehee,,  hal itu karena sedang banyak kegiatan kampus mulai dari Skripsi - pkl - kkn - dan besuk mau lanjut koas hehee, doakan ya..
Kali ini saya akan berbagi pengetahuan terkait disiplin ilmu yang saya pelajari di kampus, artikel ini bersumber dari http://dokterhewanku.com/09/09/2016/penyakit-kucing-jahat-panleukopenia/
Okee langsung saja artikelnya dibawah ini :


Sumber gambar : http://dokterhewanku.com/wp-content/uploads/2016/09/Kucing-sakit.png

“Penyakit Panleukopenia itu apa dok? kok bisa kena ya? Bisa sembuh enggak?”
Saya langsung diberondong pertanyaan oleh klien saya. Dari raut mukanya menunjukkan kesedihan yang mendalam, maklum kucingnya  terkena penyakit ini.
Penjelasan yang saya berikan padanya kurang lebih seperti dibawah ini:

Deskripsi Umum dan Penyebab
Panleukopenia di Indonesia juga dikenal dengan nama “Penyakit Kucing Jahat” (1); penyakit ini mempunyai banyak nama lain, salah satunya yakni Feline Distemper. Merupakan penyakit yang sangat menular, sering fatal dan terjadi di seluruh dunia (2). Biang keladi penyakit ini adalah Feline Panleukopenia Virus (FPV), yang masih tergolong dalam feline parvovirus(1,2). Virus ini mampu bertahan selama 1 tahun di lingkungan –pada suhu ruang–, jika terlindungi oleh bahan organik(2). Tingkat kematian yang ditimbulkannya antara 25-90%, dan mencapai 100% pada infeksi yang perakut / tiba-tiba(6, 7). Salah satu studi yang dilakukan di Jerman dari 244 kucing yang terkena penyakit ini, menunjukkan bahwa 57% kucing yang berumur kurang dari 6 bulan atau kucing muda lebih mudah terkena penyakit ini, dibandingkan yang lebih tua(8). Panleukopenia juga dapat menginfeksi hewan-hewan lain yang masih sekerabat dengan kucing, yaitu: rakun, cerpelai serta serigala (9).

Cara Penularan

Kucing dapat tertular penyakit ini secara langsung melalui udara yang terpapar oleh hewan terinfeksi, kotorannya, sekresi (misalnya: lendir yang dikeluarkannya) maupun secara tidak langsung benda-benda yang terkontaminasi (misalnya: sepatu, pakaian dan peralatan-peralatan) (2,3). Sehingga tetap ada resiko pada kucing yang hanya dipelihara di dalam rumah untuk tetap tertular(3). Kebanyakan kucing yang hidup berliaran dianggap terkena virus ini selama tahun pertama dari kehidupan mereka(2).

Proses Berjangkitnya Penyakit
Awalnya virus bereplikasi pada jaringan oropharynx, lalu menyebar ke semua jaringan(10). Virus akan menginfeksi dan menghancurkan khususnya pada sel yang aktif membelah, misalnya sumsum tulang, jaringan lymphoid, epitel usus, dan– pada hewan muda– otak kecil serta retina. Infeksi pada epitel usus akan menyebabkan diare. Infeksi pada limfo nodus dan tymus, menyebabkan limfopenia (penurunan jumlah sel darah putih). Infeksi pada sumsum tulang menyebabkan neutropenia (penurunan jumlah netrofil), lalu juga trobositopenia (penurunan jumlah trombosit) dan anemia (penurunan jumlah sel darah merah) (11).
Pada betina yang bunting, virus mungkin dapat menyebar melalui plasenta dan menyebabkan penyerapan embrio, mumifikasi janin, abortus atau kematian janin. Janin yang terinfeksi pada periode akhir dapat mengalami kehancuran pada epitel germinal dari otak (5).
Kebanyakan infeksi berlangsung secara subklinis atau tidak menunjukkan gejala sakit, yang dibuktikan dengan tingginya antibodi terhadap virus ini walaupun tidak pernah divaksinasi(2).

Gejala Klinis
Tanda-tanda kucing yang terjangkit penyakit ini adalah tidak mau makan, kelesuan, muntah-muntah, demam, dehidrasi (ditandai dengan keras dan keringnya telapak kaki), beberapa mengalami diare(1,2), kelesuan (4) dan bau mulut yang busuk (1).  Kucing yang terinfeksi dapat duduk berjam-jam didekat mangkuk air mereka, meskipun mereka tidak banyak minum.  Pemeriksaan fisik biasanya ditemukan depresi yang mendalam, dehidrasi, serta terkadang nyeri  perut. Perabaan pada perut –hal ini dapat menyebabkan muntah– menemukan adanya penebalan usus dan pembesaran nodus limfa mesenterial. Lesi atau jaringan abnormal pada retina –apabila muncul– akan menimbulkan bercak keabu-abuan(2).
Janin yang terinfeksi, ketika dilahirkan akan mengalami cerebellar hypoplasia (otak kecil tidak terbentuk sempurna), inkoordinasi (gangguan koordinasi otot), termor (gemetaran)(2) dan kebutaan (5).

Diagnosa
Dugaan diagnosa berdasarkan gejala klinis yang berhubungan, pada kucing yang tanpa vaksinasi dan menunjukkan leukopenia (50-3,000 WBC/µL). Neutropenia lebih konsisten ditemukan daripada limfopenia(2).  Diikuti dengan thrombositopenia, anemia, dan immunosupresi (turunnya sistem pertahanan tubuh)(3). Jumlah sel darah putih <2,000 sel/ µL dapat berhubungan dengan prognosis (perkiraan jalannya penyakit) yang buruk.
Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan menggunakan tes kit immunochromatograpic  yang dimaksudkan untuk mendeteksi adanya antigen CPV pada feses. Namun, antigen pada feses hanya dapat dideteksi dalam waktu singkat setelah infeksi, sehingga sering ditemukan terjadinya negatif palsu(2).
Sampel feses dan darah utuh dapat diambil untuk dilakukan test Polymerase Chain Reaction (PCR). Test serologi –dengan serum– tidak direkomendasikan karena hasilnya meragukan antara antibodi hasil dari infeksi atau vaksinasi(3).

Pengobatan
Keberhasilan pengobatan pada kasus akut tergantung pada terapi cairan dan perawatan suportif di unit isolasi. Gangguan elektolit (misalnya hipokalemia / kekurangan kalium), hipoglikemia (kekurangan glukosa), hypoproteinemia (kekurangan protein), anemia, dan infeksi sekunder sering berkembang memperparah keadaan kucing(2). Pada kasus enteritis / radang usus, pemberian antibiotik spektrum luas direkomendasikan(3). Pemberian anti muntah dapat dipertimbangkan. Vitamin dapat diberikan untuk mengatasi kekurangan thiamine. Kucing yang menunjukkan hypoproteinemia, mungkin membutuhkan tranfusi plasma atau darah utuh. Rekombinan interferon-omega efektif untuk terapi parvoviral enteritis dengan mencegah replikasi virus pada anjing, akan tetapi tidak ada data untuk kucing (10).
Apabila kucing yang terinfeksi dapat bertahan lebih dari 5 hari, biasanya akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu (4). Jika kucing Anda terkena penyakit ini, pemberian makanan secara paksa tidak dianjurkan(1). Pemilik diharapkan memisahkan kucing penderita dengan kucing yang masih sehat, agar tidak menular dan segera bawa ke dokter hewan!. Sangat tidak disarankan untuk coba-coba mengobatinya sendiri.
Serum anti-FPV dapat digunakan untuk mencegah infeksi pada kucing lain yang peka terhadap penularan(10). Desinfeksi lingkungan dapat dilakukan dengan larutan formalin, kaporit, ethylene oxide atau air mendidih(1).  Selain itu, untuk membunuh virus ini di lingkungan dapat  menggunakan pemutih pakaian (mengandung 6% sodium hypochlorite) yang diencerkan dalam 1:32 pelarut(2,3).

Pencegahan
Kolostrum yang terkandung dari air susu induk hanya dapat melindungi anak kucing sampai pada umur 6-8 minggu(12 dalam 10). Cara yang efektif untuk pencegahan saat ini hanya dengan vaksinasi. Di negara maju, penyakit ini mulai jarang ditemui. Kemungkinan dikarenakan penggunaan vaksin yang sudah dilakukan secara luas(2). Vaksin tidak dapat memberikan proteksi optimal pada hewan dengan kondisi gangguan sistem imun, seperti: defisiensi nutrisi, genetik, penyakit sistemik, pemberian obat yang menekan sistem imun, dan stress lingkungan. Usaha perlu dilakukan untuk melindungi kucing yang peka terhadap paparan penyakit dan memperbaiki kondisinya sebelum vaksinasi; jika tidak mungkin, vaksinasi dapat dilakukan dan diulangi ketika kucing sudah kembali pulih sepenuhnya. Life-vaccine modifikasi seharusnya diberikan secara sangat hati-hati pada kucing dengan gangguan sistem imun, dapat dipertimbangkan pemberian killed-vaccine yang lebih aman untuk kondisi ini(10).

Penyakit yang Mirip
Penyakit lain yang gejala klinisnya mirip dengan penyakit ini antara lain: depresi yang mendalam, leukopenia, dan gejala pencernaan. Dapat dipertimbangkan juga penyakit salmonellosis dan infeksi Feline Leukemia Virus (FeLV) dan Feline Immunodeficiency Virus (FIV)(2).

Sumber Artikel:
http://dokterhewanku.com/09/09/2016/penyakit-kucing-jahat-panleukopenia/, ditulis oleh M. N N Naufal

Sumber gambar:  Albert, L. 2009. Dalam “Feline Panleukopenia. ABCD Guidelines on Prevention And Management”. Journal of Feline Medicine & Surgery 2009.05.002

Daftar Pustaka :
(1) Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
(2) Squires, R. A. 2013. Overview of Feline Panleukopenia. http://www.merckvetmanual.com/mvm/generalized_conditions/feline_panleukopenia/overview_of_feline_panleukopenia.html. Diakses 27 Agustus 2016
(3) Truyen, U., Addie, D., Belák, S., Boucraut, B. C., Egberink, H., Frymus, T., Gruffydd, J. T., Hartmann, K., Hosie, M. J., Lloret, A., Lutz, H., Marsilio, F., Pennisi, M. G., Radford, A.D., Thiry, E., Horzinek, M.C. 2009. Feline panleukopenia. ABCD guidelines on prevention and management. J Feline Med Surg. 2009 Jul,11(7):538-46
(4) Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(5) Csiza, C.K., Scott, F.W., de Lahunta, A., Gillespie, J.H., 1971. Immune Carrier State of Feline Panleukopenia Virus-Infected Cats. American Journal of Veterinary Research 32, 419–426. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(6) Addie, D.D., Jarrett, O., Simpson, J., Thompson, H., 1996. Feline Parvovirus in Pedigree Kittens. Veterinary Record 138, 119. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(7) Cave, T.A., Thompson, H., Reid, S.W., Hodgson, D.R., Addie, D.D. 2002. Kitten Mortality in the United Kingdom: A Retrospective Analysis of Histopathological Examinations (1986 to 2000). Veterinary Record 151, 497–501. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(8) Kruse, B.D., Unterer, S., Horlacher, K., Sauter-Louis, C., Hartmann, K., 2010. Prognostic Factors in Cats with Feline Panleukopenia. Journal of Veterinary Internal Medicine 24, 1271–1276. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(9) Barker, I.K., Povey, R.C., Voigt, D.R. 1983. Response of Mink, Skunk, Red Fox and Raccoon to Inoculation with Mink Virus Enteritis, Feline Panleukopenia and Canine Parvovirus and Prevalence of Antibody to Parvovirus In Wild Carnivores in Ontario. Canadian Journal of Comparative Medicine 47, 188–197. Dalam: Stuetzer, B & Katrin, H. 2014. Feline Parvovirus Infection and Asscociated Disease. The Veterinary Journal 201 (2014) 150–155
(10) Horzinek, M., Diane, A., Sandor, B., Corine B. B., Herman E., Tadeusz, F., Tim Gruffydd, J., Katrin, H., Margaret, J. H., Albert, L., Hans, L., Fulvio, M., Maria, G. P., Alan, R., Andy, S. 2006. ABC guidlines on Feline Panleukopenia Virus. European Advisory Board on Cat Disease
(11) Chandler, E. A. 2004. In Feline Medicine and Therapeutics3rd ed. Blackwell Science (UK)
(12) Dawson S., N.R. Smyth, M. Bennett, R.M. Gaskell, C.M. McCracken, A. Brown & C.J. Gaskell (1991). Effect of primary-stage feline immunnodeficiency virus infection on subsequent feline calicivirus vaccination and challenge in cats. J Acq Immun Defic Syndrome 5:747-750
 




Download GAME dan APLIKASI lainnya :






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar